Kamis, 16 Januari 2025

Selalu ada alasan untuk bersyukur

Pagi hari dapat cerita seorang teman, bahwa isterinya mengalami musibah, jatuh terpeleset dan mengalami patah tulang di lengan atas kiri. Alhamdulillah hanya itu, tidak ada luka lainnya. Alhamdulillah di tangan kiri, sehingga tangan kanan masih tetap bisa beraktivitas. Alhamdulillah kedua kaki tidak sakit, sehingga tetap bisa aktivitas mandiri. 

Alhamdulillah, ungkapan syukur yang mendalam kepada Allah, dan segala puji hanya milik-Nya, hanya pantas diberikan dan dipujikan kepada-Nya, meskipun ditimpa musibah, tetap banyak yang harus disyukuri. Betapa dahsyatnya ucapan hamdalah ini, menguatkan jiwa di tengah musibah untuk tetap selalu mengingat betapa nikmat-Nya jauh lebih banyak, dibandingkan ujian musibah yang diberikan. Dan kondisi ini menakjubkan, inilah ajaran Islam, ajaran Rasulullah saw yang mulia. Hamdalah bukan sekedar ucapan pujian, tapi begitu dalam hikmahnya, dampaknya pada jiwa yang mengucapkannya. 

Alhamdulillah, bersyukur sang suami, karena dengan musibah isterinya, ia diberikan kesempatan belajar sabar, belajar menggantikan peran isteri memasak, merawat isteri, melayani isteri. Anak-anaknya juga menjadi berkesempatan untuk belajar melayani ibunya, membersihkan rumahnya. Intinya semua menjadi berubah lebih baik, lebih respon terhadap kondisi ibunya yang sedang sakit. 

Berasa betul, sedemikian berharganya kesehatan seorang ibu, seorang isteri. Sekalinya sakit, anggota keluarga lainnya mendadak harus belajar mengambil peran ibu dan isteri. Dan itu tidak bisa serta merta, bahkan pada awalnya menjadi beban. Jadi, ternyata peran ibu dan isteri sedemikian luar biasa. Sayang, selama ini suami dan anak-anak menganggapnya biasa, memang tugasnya demikian, sehingga jarang memberikan apresiasi, kadang atau seringkali lupa pula mengucapkan terima kasih atas jerih payah yang sudah dilakukan ibu dan isteri dalam melayani keluarga. 

Musibah membawa berkah. Selalu ada alasan untuk bersyukur dalam kondisi apapun. 

Jumat, 02 Agustus 2024

Karang Taruna, Wadah Strategis Bagi Pemuda

Pembinaan dan pemberdayaan Karang Taruna merupakan salah satu tugas dari Bidang Pemberdayaan Sosial. Sesuatu yang selama ini hanya merupakan informasi umum, saat ini harus dipelajari lebih detil. 

Karang Taruna ternyata sebuah wadah bagi generasi muda yang sangat luar biasa. Karang dimaknai sebagai pekarangan, lahan untuk bertanam. Atau bahkan dimaknai sebagai batu karang yang kuat dan kokoh menahan terpaan gelombang air laut yang dahsyat. Sedangkan Taruna dimaknai sebagai generasi muda. Luar biasa bukan. Karang Taruna kemudian dimaknai sebagai wadah bagi generasi muda untuk menempa diri agar menjadi pribadi yang kuat, kokoh, cerdas, mandiri, mampu memberikan kontribusi, berdaya, tumbuh, berkembang melalui kegiatan di lingkungan masyarakatnya. 

Karang Taruna diharapkan menjadi wadah bagi pemuda dan pemudi usia 13 sampai 45 tahun. Sifat keanggotaan adalah otomatis bagi pemuda dan pemudi usia tersebut. Dan usia ini adalah usia yang strategis karena merupakan usia produktif manusia untuk bertumbuh dan berkembang. 

Karang Taruna berkedudukan di tingkat desa dan kelurahan. Sedangkan unit kegiatannya bisa di masing-masing dusun atau RW. Kepengurusan Karang Taruna ditetapkan dengan Surat Keputusan Kepala Desa atau Lurah. Masa bhaktinya lima tahun sesuai Peraturan Menteri Sosial Nomor 25 Tahun 2019. 

Sekali lagi Karang Taruna sangat strategis posisinya di masyarakat. Unit kegiatannya sangat luas: bidang pendidikan, sosial, kesehatan, keagamaan, seni budaya, lingkungan, dan banyak lagi. Oleh karenanya dapat bersinergi dengan semua aktor baik pemerintah maupun non pemerintah.

Bagi pemerintah, Karang Taruna diharapkan mampu berperan sebagai salah satu Potensi dan Sumber kesejahteraan Sosial (PSKS) yang peduli dengan kondisi lingkungannya, utamanya terkait permasalahan kesejahteraan sosial. Pemerlu Pelayanan Kesejahteraan Sosial (PPKS) yang saat ini menjadi permasalahan pembangunan sangat banyak. Beberapa diantaranya sangat dekat dengan kita, seperti disabilitas dari keluarga miskin, anak berhadapan dengan hukum, pernikahan dibawah umur, korban napza, anak punk (anak jalanan), keluarga rentan (miskin, single parent, cerai), dan sebagainya.

Permasalahan tersebut menjadi peluang bagi Karang Taruna untuk mengelola kegiatan di lingkungan. Potensi pemuda dapat dipetakan sesuai kompetensinya, sekaligus diperankan untuk mengurai permasalahan. Oleh karena itu Karang Taruna dapat bersinergi dengan ormas, tokoh agama, tokoh masyarakat, tenaga kesehatan, kader desa, instansi pemerintah, badan usaha, dan aktor lainnya sesuai kebutuhan. 

Nah, karena pemuda usia 13-45 tahun otomatis menjadi anggota Karang Taruna, maka setiap mereka dapat menjadi pionir di lingkungannya. Tunggu apa lagi, mari hidupkan kembali Karang Taruna untuk membangun karakter pemuda yang kuat menuju Indonesia Emas 2045. 

 

  



Waktu Senggang

Dunia terus berputar, waktu terus berjalan, roda kehidupan terus berubah. Demikianlah Allah menciptakan sunnah kehidupan. Tidak ada yang tidak berubah kecuali Allah sendiri. Semua makhluk-Nya mengalami perubahan. 

Demikianlah Allah memperjalankan kehidupanku. Bekerja di tempat yang beban kerjanya tinggi memberikan pengalaman betapa sangat berartinya waktu. Tidak sempat bersantai-santai. Pekerjaan bertubi-tubi memaksa diri untuk mengelola waktu dengan sebaik mungkin agar semuanya selesai tepat waktu, tepat mutu. Tidak mudah, tapi harus dipaksa, akhirnya terbiasa. Kesibukan yang menguras energi, membuat otak terbiasa berpikir cepat, badan bergerak cepat, hati cepat mengambil kesempatan untuk rehat di tengah kesibukan, dan perasaan terasah untuk mudah merespon situasi. Tugas-tugas serius dan besar membutuhkan prioritas untuk segera diselesaikan, membuat hal-hal kecil tidak sempat bikin baper. Bukan berarti membunuh perasaan, tapi menyikapi rasa tidak enak dengan cepat, dan memaksanya segera beralih pada persoalan yang lebih logis. 

Teringat sebuah ungkapan bijak: "Jika hal yang menyenangkan hati dan pikiran kita tidak terjadi, maka senangilah kejadian yang sudah Allah takdirkan." 

Ungkapan tersebut selaras dengan ayat cinta Allah: bisa jadi kita menyukai sesuatu tetapi hal tersebut tidak baik bagi kita (menurut Allah). Dan bisa jadi kita membenci sesuatu, padahal hal tersebut baik bagi kita (menurut Allah). Jadi kuncinya memang ridha dengan takdir Allah. Menerima keadaan sebagai hal terbaik yang Allah takdirkan, dan tidak menolaknya, tidak lari dari kenyataan. 

Sebagaimana sunnatullah bahwa segala sesuatu akan berubah, hanya Allah yang tidak berubah. Demikian pula amanah kehidupan ini akan selalu berubah. dipergilirkan kondisi sibuk dengan senggang. Begitulan pengalaman amanahku yang berganti-ganti. Saat di tempat kerja yang lebih senggang, maka ujian memanfaatkan waktu agar tidak menjadi pedang yang akan menebas kesempatan, adalah hal yang perlu disikapi. Butuh belajar mengelola waktu senggang agar tetap mampu mengambil manfaat dan melahirkan karya. Uuntuk mengetahui bagaimana hasilnya, mungkin perlu melakukan evaluasi diri. Membedakan before after antara di tempat kerja yang sangat sibuk dengan tempat kerja yang longgar. hasilnya untuk memotivasi diri agar tetap on the track di tengah waktu luang. tetap berkinerja baik di tengah waktu luang. 

Ada hal-hal yang menantang saat ini: 

  • perbedaan style pimpinan, dulu sangat disiplin, sekarang santai
  • perbedaan budaya kerja, dulu sangat kompak dalam team work yang solid, sekarang lebih teknis di masing-masing bidang
  • dulu banyak membaca dan membuat konsep, saat ini banyak mengerjakan hal-hal teknis, sedikit sekali konsep
  • dulu merencanakan dan menganalisis, saat ini harus mencari-cari apa yang harus direncanakan dan dianalisis
Menantang diri, untuk kembali menuangkan konsep, mapping masalah apa yang belum dilaksanakan, atau belum mencapai target. Potensi apa saja yang tersedia. Rencana tidak lanjut apa yang akan dikerjakan. Siapa saja aktor yang berperan. Ternyata memikirkan hal-hal tersebut terasa asyik dan menyegarkan otakku. 

Memang benar, menikmati pemberian Allah di depan mata menjadi energi positif. Tidak terjebak pada nostalgia masa lalu. Tidak pula khawatir dengan masa depan. 

Maha suci Allah yang memperjalankan semua makhluk-Nya dengan kuasa-Nya. Segala puji hanya layak bagi-Nya. Dan kembali, segala puji hanya layak bagi-Nya atas segala urusan yang ditetapkan, baik sesuai ekspektasi maupun tidak. 

Wahai diri, syukurilah keadaanmu hari ini, karena itu akan menguatkan langkahmu. Yakinlah, Allah akan membersamaimu dan menolongmu dalam setiap amanah. 




Minggu, 17 Juli 2022

Kasih Ibu

 KASIH IBU

Ibu, tak pernah terbalaskan kasihmu

sejak kami dalam buaianmu

hingga kini tegak langkah kami 

engkau tetap 


Ibu, tak pernah sedetik pun engkau berhenti

merenda kasih untuk kami, anak-anakmu

meski seringkali kami melukai hatimu

derai airmata dalam doa-doa panjangmu

adalah muara kemaafanmu untuk kami




Sabtu, 04 Juni 2022

Nikmat perjalanan

 Nikmat perjalanan

Ahad, 5 Juni 2022, bangun pagi, mandi, sholat subuh bersama Mahdiyya dan Faruq ke masjid Baiturrahman Margasari.. masjid kesayangan, tempat anak-anak berkegiatan sepanjang Ramadhan ceria yang baru saja berlalu. Alhamdulillah... Pagi yang penuh barakah.. 

Koper dan tas ransel, juga tas cangklong kecil siap menemani perjalananku ke Surabaya pagi ini. Bismillahi tawakkaltu 'alallah.. semoga dimudahkan perjalan ini dan memberi manfaat.. amin.

Hari ini aku bersama Mas Hermadhi yang pernah aku kenal, ASN prakom Dindikpora, diberi tugas untuk mengikuti Diklat Rencana Pendidikan di Surabaya sampai tanggal 11  Juni. Alhamdulillah dapat bus Safari Dharma Raya alias OBL. Jam 07.30 pagi kami sudah diwanti-wanti petugas agar sudah siap di garasi. Alhamdulillah kami tidak telat. Nah.. ternyata Mas Hermadhi tidaklah wajah asing, selama ini pernah ketemu tapi entah di mana. Mas Zen yang sabar menemaniku jadi teman berbincang bersama Mas Hermadhi, suasana canggung lenyap seketika. Alhamdulillah.. 

Bus terlambat bersiap.. hampir jam 08.30 baru berangkat, hampir 30 menit terlambat. Mas Zen membantuku memasukkan koper ke bagasi, membawa ranselku ke atas.. yang ternyata.. ohh.. tali jinjingnya lepas sebelah.. Alhamdulillah masih bisa diangkat, tali punggungnya masih kuat.. mungkin segitu saja kualitas tas pembagian saat rakor dengan LPMP di Semarang beberapa bulan lalu.. beda banget kualitasnya dengan ransel Asma Nadia yang sudah berumur 7 tahun, masih kuat.. he he.. beda kelas kok ya. Aku sama Mas Zen hanya senyum-senyum. 

Saat naik bus sambil bawa ranselku.. brak.. suara lantai usang bus terdengar, membuat kami nyengir, semoga baik baik saja selama perjalanan nanti.. amin. 

" Umi naik saja ya, Abi mau segera pulang, ada yang harus disiapkan buat test anak-anak," pamit Mas Zen. Kucium tangan dan kedua pipinya, "Assalamu'alaikum, doakan lancar dan selamat ya Abi. Nitip anak-anak ya.. syukran."

Ohh tempat duduk yang saling berhimpit satu sama lain. Dengan sigap aku tawarkan Mas Hermadhi untuk tukar dengan penumpang yang perempuan, agar perjalanan lebih nyaman. Alhamdulillah naik penumpang perempuan dan segera aku minta duduk jejer. Allah Maha Baik untuk memilihkan teman perjalanan yang nyaman. 

" Mau ke mana mba?" Tanyaku pada mbak yang baru saja naik. 

" Ke Surabaya, Bu." Ibu mau ke mana?"

" Ke Surabaya juga, mba. " 

Alhamdulillah percakapan mengalir begitu saja. Mbak yang baik ini ternyata rumahnya Bansari. Mahasiswi profesi keperawatan Unair. S1 Keperawatan, lalu lanjut profesi Nurse selama kurang lebih 1 tahun. Katanya tugas akhir profesi agak rumit, harus buat tulisan ilmiah, padahal di S1 sudah buat skripsi. Aturannya sudah beda dengan dulu, mungkin akan berubah setiap tahun mengikuti perkembangan zaman. Aku hanya ber oh oh saja, berusaha menyemangati. 

Tidak bijak kalau mengajaknya bercakap-cakap terus. Oohh.. aku ingat belum menyelesaikan wiridku. Bismillah.. sejenak perjalanan aku gunakan untuk wirid sampai selesai. Doa Rabithah aku lantunkan sembari membayangkan wajah-wajah para ulama, para guru, teman-teman lingkaran Sabtu, dan juga keluarga tercinta.. semoga disatukan hati-hati kami dalam ketaatan kepada Allah, dan kelak akan kembali dikumpulkan di Jannah-Nya.. amin.. Doa ini selalu aku panjatkan dengan sepenuh harap kepada Allah.. diberikan Rahmat dan surga-Nya, dan dijauhkan dari murka dan neraka-Nya.. amin amin. 

Hampir sampai Mertoyudan.. bus menepi.. ohh ternyata ada 4 orang naik. Alhamdulillah.. ikut syukur bus ini tidak banyak kursi kosong. Meski Bus tua tapi masih jadi alternatif perjalanan jauh banyak orang. Ahh ingat saat bus ini masih jaya. Tampak bagus dengan gambar gajah dan suara klakson yang nyaring seperti suara gajah. Sejak masih SD bus ini selalu jadi pilihan keluarga untuk silaturahim ke keluarga Jakarta. Sekarang bus ini sudah tua.. mulai rapuh. Seperti halnya kami.. tak terasa juga sudah menua.. semoga Allah berikan kesehatan untuk menikmati ibadah di setiap waktu. Amin.

Sejak awal berangkat tidak sengaja mendengar percakapan sopir dan kernet bus. Entah apa yang mereka bincangkan tapi sebagiannya adalah gerutu terhadap seorang teman. Semoga tetap ada kesyukuran mereka yang akan menjadi teman sepanjang perjalanan, menjadi kemudahan bagi mereka menjemput rezeki Allah.. 

Bus kembali menjemput penumpang di terminal Jombor.. tidak terasa sudah sampai Jogja.. aku sempat terkantuk-kantuk sejak dari Muntilan.. sempat pegang buku tulisan Mba Mimin.. FilantArt Solusi Atasi Kurang Gizi.. tapi jalan yang bergelombang kurang nyaman untuk membaca di dalam bus.

Bus kembali berjalan pelan karena jalan juga padat. Tiba-tiba terdengar suara duarr dan bus agak oleng. Innalilahi wainna ilaihi Raji'un.. spontan aku berpegangan mbak di sebelahku.. Alhamdulillah bukan penumpang laki-laki, inilah sebagian nikmat yang aku syukuri.. Alhamdulillah. 

Sopir dan 2 orang petugas turun, ada yang menelpon kantor terdekat dan meminta didatangkan montir. Semoga segera teratasi. Aku segera wa Mas Zen soal kondisi ini, minta didoakan agar segera teratasi. 

Tak terasa sejak kejadian jam 11.40 tadi sampai jam ini 13 belum selesai. 




Selalu ada alasan untuk bersyukur Pagi hari dapat cerita seorang teman, bahwa isterinya mengalami musibah, jatuh terpeleset dan mengalami pa...